Harga Sebuah Impian
Judul diatas adalah salah satu judul buku yang berisi tentang catatan perjalanan para writers terkenal seperti Terry McMillan, Bud Gardner, Irving Wallace dan masih banyak lagi.
Saya suka seklai buku ini karena ceritanya yang menginspirasi membuat saya sering bertahan saat mengalami penolakan. ya, penolakan.
Menjalani proses belajar menulis bukanlah hal yang mudah (tapi siapa yang bilang belajar itu gampang?). Seperti pagi ini, saya baru saja mengirim dua naskah yang saya harapkan bisa masuk ke dalam buku antologi. Saking tegangnya, saat memasak tadi saya sampe salah salah memasukkan bumbu.
Terus terang saya mencanangkan bahwa bulan ini harus menjadi "milik" saya. Memenangkan beberapa perlombaan serta menerbitkan beberapa buku. Dengan adanya resolusi itu saya mejadi tegang dan terlalu mengharap.
Ada satu hal yang saya lupakan dalam resolusi saya itu; keinginan saya tersebut, - tolok ukur kesuksesaanya,- sejatinyalah bukan tergantung pada diri saya. Namun, ada mereka, para juri lomba dan para penerbit buku. Akibatnya ketika hasil yang saya peroleh tidak seperti yang saya harapkan, saya pun down, nelangasa. Ujung-ujungnya saya jadi marah-marah, kesel sendiri.
Walhasil, suasana rumah pun menjadi tak nyaman. Penuh tangis anak dan teriakan. Berkata pun menjadi tak nyaman. Ah...sejenak merenung, pastilah ada yang salah. Saya pun kembali mengoreksi resolusi saya. Seharusnya bukan menjadikan kemenagan lomba dan terbit buku sebagai target pencapaian, namun menyelesaikan menulis buku dan mengikuti beberapa perlombaan-lah yang seharusnya menjadi target saya di bulan ini.Karena pada taraf ini lah hal tersebut dapat saya kendalikan serta memastikan keberhasilan dari kegiatan tersebut.
Saya masih ingat pesan Ibu Lygia Pecanduhujan, pekerjaan awal penulis itu menulis. setelah menulis, maka lupakan. Entah terbit atau tidak, diterima media atau tidak itu urusan nanti. yang penting nulis lagi, dan nulis lagi. Tujuannya mengasah ketajaman pena.
Alhamdulillah saat ini saya tak merasa resah lagi atas kedua naskah saya itu. yang penting nulis, nulis lagi, lagi dan lagi. Karena memang itulah harga yang harus di bayar dari sebuah impian. Berjuang.
Saya suka seklai buku ini karena ceritanya yang menginspirasi membuat saya sering bertahan saat mengalami penolakan. ya, penolakan.
Menjalani proses belajar menulis bukanlah hal yang mudah (tapi siapa yang bilang belajar itu gampang?). Seperti pagi ini, saya baru saja mengirim dua naskah yang saya harapkan bisa masuk ke dalam buku antologi. Saking tegangnya, saat memasak tadi saya sampe salah salah memasukkan bumbu.
Terus terang saya mencanangkan bahwa bulan ini harus menjadi "milik" saya. Memenangkan beberapa perlombaan serta menerbitkan beberapa buku. Dengan adanya resolusi itu saya mejadi tegang dan terlalu mengharap.
Ada satu hal yang saya lupakan dalam resolusi saya itu; keinginan saya tersebut, - tolok ukur kesuksesaanya,- sejatinyalah bukan tergantung pada diri saya. Namun, ada mereka, para juri lomba dan para penerbit buku. Akibatnya ketika hasil yang saya peroleh tidak seperti yang saya harapkan, saya pun down, nelangasa. Ujung-ujungnya saya jadi marah-marah, kesel sendiri.
Walhasil, suasana rumah pun menjadi tak nyaman. Penuh tangis anak dan teriakan. Berkata pun menjadi tak nyaman. Ah...sejenak merenung, pastilah ada yang salah. Saya pun kembali mengoreksi resolusi saya. Seharusnya bukan menjadikan kemenagan lomba dan terbit buku sebagai target pencapaian, namun menyelesaikan menulis buku dan mengikuti beberapa perlombaan-lah yang seharusnya menjadi target saya di bulan ini.Karena pada taraf ini lah hal tersebut dapat saya kendalikan serta memastikan keberhasilan dari kegiatan tersebut.
Saya masih ingat pesan Ibu Lygia Pecanduhujan, pekerjaan awal penulis itu menulis. setelah menulis, maka lupakan. Entah terbit atau tidak, diterima media atau tidak itu urusan nanti. yang penting nulis lagi, dan nulis lagi. Tujuannya mengasah ketajaman pena.
Alhamdulillah saat ini saya tak merasa resah lagi atas kedua naskah saya itu. yang penting nulis, nulis lagi, lagi dan lagi. Karena memang itulah harga yang harus di bayar dari sebuah impian. Berjuang.
Komentar
Posting Komentar