Sepenggal Kisah dari “Thinker Bell and the Lost Treasure”




Orang pintar bilang, manusia adalah makhluk tertinggi yang Tuhan cipta dengan rasa dan karsa, juga akal budi. Sayangnya, di sisi lain, manusia juga tempat salah dan alpa. Tempat dimana biasanya aku berada.

Aku akan datang kepada manusia sesaat begitu mereka membuat kesalahan. Aku akan ketuk pintu hatinya medendangkan sebuah kisah lama. Namun sayangnya (lagi-lagi), mereka sering menolakku. Mungkin karena kehadiranku selalu membawa keharusan untuk bekerja keras yang,-mungkin saja dalam kurun waktu sesaat, namun bisa juga selamanya.
Think Merasa Bersalah setelah menjatuhkan batu bulan


Hari ini, ijinkan aku petik sebuah hikmah dari sebuah dongeng belia; “Thinker bell and the lost treasure”. Dikisahkan suatu ketika Think membuat kesalahan. Dan sebagaimana seharusnya, aku segera datang menemuinya. Syukurlah, ia membukakan pintu untukku meski aku membawa sejumlah proposal kerja keras yang panjang dan penuh marabahaya baginya. Tapi hebatnya, ia menyanggupinya. Kemudian, kami pun mengadakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang pada akhirnya memberikan Think kebahagiaan, pujian dan limpahan kasih sayang.

Dalam perjalanan itu aku berpikir, andaikan saja manusia seperti Think. Tidak menggantikan aku dengan setumpuk uang sebagai pengganti kesalahan yang ia perbuat. Andai mereka merasa aku bukanlah beban, tapi aku adalah sebuah sebab akibat dari kesalahan yang mereka perbuat. Yang hadir kepada mereka semata karena untuk perbaikan hidup mereka. Karena aku bernama TANGGUNG JAWAB.

Komentar

Postingan Populer